Friday, 10 June 2016

REMAJA




Buatkamu Apa Arti remaja?

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan. Dan dia menjawab: Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mau kedamaian. Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata ‚Tidak‛ di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata ‚Ya‛.

Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan. Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita; Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan. Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan. Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.

Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu? Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu! Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu. Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan.. Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan. @KAHLIL GIBRAN


          Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam menjalani sebuah kehidupan, manusia harus melewati beberapa massa dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa hingga ke masa yang sering mereka keluhkan yaitu masa tua. Dan diantara masa-masa tersebut ada suatu masa yang konon, orang-orang menyebutnya sebagai masa yang paling indah yaitu masa yang akrab kita sebut dengan masa remaja.
          Menurut ilmu psikologis remaja adalah suatu masa dimana manusia mulai mengenal dan menyukai lawan jenis, musik, tempat-tempat romantis dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah mengherankan lagi jika mereka mendapatkan kebahagiaan dan kenang-kenangan yang tak terlupakan pada masa itu. Akan tetapi untuk mewujudkan hal-hal tersebut mereka harus bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan seorang remaja, kebutuhan yang mana sudah menjadi syarat untuk memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup mereka.
         Seperti yang telah mereka ketahui bahwa orang yang menjalani sebuah kehidupan senantiasa memiliki kebutuhan, terlepas dari jenis kebutuhannya, entah kebutuhan sandang, pangan atau papan. Mereka harus memenuhinya dengan jalan ikhtiar tapi untuk para remaja ikhtiar mereka bukanlah pada materi melainkan pada peraihan prestasi dan gengsi.
          Mereka kerahkan daya dan upaya yang mereka miliki dengan demikian mereka dapat meraih kesuksesan yang mereka damba dan impi-impikan, tapi apakah sebenarnya apa kebutuhan yang harus mereka penuhi? dan apa pengaruh kebutuhan tersebut dngan pendidikan mereka?TENTU, bagi seorang atau beberapa remaja pendidikanlah kebutuhan yang paling penting bagi mereka, karena kesuksesan dan kegagalan mereka dimasa depan ditentukan oleh pendidikan mereka dimasa remaja, hal itu memang sudah menjadi hukum alam di dunia ini, menurut saya. seperti apa yang dikatakan oleh pepatah Arab, “ barang siapa bersungguh maka ia akan mendapat”.Maka sudah menjadi keharusan bagi seorang remaja untuk memperoleh pendidikan yang layak dan memadai.
       Di samping itu sorang remaja juga harus memenuhi kebutuhan lain yang sangat berpengaruh bagi pendidikan mereka yaitu kebutuhan fisik material dan kebutuhan psikologis. Untuk kebutuhan fisik material pasti semua orang sudah mengetahuinya yaitu kebutuhan yang berupa makanan, minuman, dan pakaian tetapi untuk kebutuhan psikologi mungkin hanya sedikit orang yang mengetahuinya dan disini mereka akan mengulas tentang kebutuhan tersebut.
         Pada umumnya kebutuhan psikologis ini berhubungan dengan fungsi pengenalan, ingatan, daya khayal dan berfikir yang tentunya berbeda antara satu individu dengan lainnya baik secara kualitas maupun kuantitas karena hal ini didasari kebutuhan diri masing-masing seorang remaja. Taraf dan kualitas pemuasan kebutuhan psikologis akan menentukan suasana aman bagi mereka dan rasa aman itulah kebutuhan psikologis yang paling pokok dan penting bahkan jika kebutuhan itu tidak terpenuhi mereka akan memberontak untuk mendapatkannya. Jadi sebuah keharusan bagi seorang remaja untuk memenuhi kebutuhan psikologis tersebut mengingat bahwa kebutuhan tersebut sangat besar bagi remaja.
Dan disini akan dijelaskan mengenai 7 kebutuhan psikologis yang seyogyanya diperoleh dan dimiliki seorang remaja.

Pertama, kebutuhan kasih sayang semua orang pasti membutuhkan yang namanya kasih sayang, khususnya bagi para remaja, baik itu kasih sayang dari keluarga atau orang lain, karena dengan kasih sayang tersebut mereka akan lebih percaya diri dan semangat dalam belajar ataupun bersosialisasi dengan masyarakat sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mendapatkan sebuah kesuksesan dan kebahagiaan.
Kedua, kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam suatu kelompok,
sesuai dengan perkembangan remaja, mereka akan mempunyai keinginan untuk berkumpul dan keinginan tersebut akan mereka realisasikan dengan dengan cara mengikutsertakan diri mereka ke dalam suatu kelompok atau organisasi yang akan memberikan motivasi, pengalaman atau sekedar sambutan hangat kepada mereka.
Ketiga, kebutuhan untuk berdiri sendiri,
dalam proses menuju kedewasaan seorang remaja pasti mempunyai keinginan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, tanpa campur tangan sedikitpun dari orang tua. Mereka menganggap bahwa diri mereka sudah dewasa tetapi itulah yang memang dibutuhkan seorang remaja, dengan hal itu mereka akan mencoba untuk merencanakan masa depan mereka sehingga presentase kesuksesan mereka menjadi lebih besar.
Keempat, kebutuhan untuk dihargai.
Semua orang pasti menginginkan yang namanya penghargaan, lebih-lebih bagi seorang remaja, mereka menganggap bahwa penghargaan itu kebutuhan pokok bagi mereka baik dari segi pribadi maupun prestasi. Itu disebabkan karena penghargaan adalah faktor pendorong bagi mereka utnuk cenderung berbuat baik dan lebih bersemangat dalam menjalani sebuah kehidupan.
Kelima, kebutuhan untuk berprestasi.
Sebagaimana kebanyakan remaja, mereka senantiasa ingin dapat meraih suatu prestasi, baik dalam segi akademis maupun non akademis, karena dengan adanya prestasi hidup mereka akan menjadi lebih bermakna dan berharga.
Keenam, kebutuhan akan pengakuan dari orang lain,
 sudah menjadi sifat seorang remaja bahwa mereka senantiasa ingin diakui eksistensinya oleh orang tua, guru, atau kelompok mereka karena dengan tidka adanya hal itu mereka akan merasa rendah diri dan selalu pesimis dalam memandang hidup.
Ketujuh, kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh.
Remaja adalah usia yang rawan akan pengaruh dari teknologi maupun orang lain sehingga utnuk mengatasinya mereka membutuhkan sebuah falsafah atau pedoman hidup. Pedoman hidup tersebut dapat berbentuk kajian agama, aturan nilai ataupun norma, kaidah atau peraturan hukum yang akan menjadi filter atau penyaring dalam perbuatan mereka sehari-haris ehingga mereka lebih cenderung untuk melakukan perbuatan yang lebih bermanfaat.
Itulah ketujuh kebutuhan yang sangatlah penting eksistensinya dalam Life of Teenagers, jadi sudah menjadi harga mati yang takkan bisa ditawar bagi mereka yang mengaku remaja untuk bisa menyempurnakan langkahnya dengan usaha terbaik agar dapat merengkuh masa depan.

Sedangkan Menurute Elizabeth B. Hurlock (1981)

REMAJA adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. 

Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). 
Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

        Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.

Permasalahan Fisik dan Kesehatan
       Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. 

        Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
       Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang
          Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa.
Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama
Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:
Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”.
       Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.
      Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.
       Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).
Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
        Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.
Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
        Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
       Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
         Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.

Selengkapnya dapat membaca:
Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling. Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui http://ezproxy.match.edu/menu pada 9 Mei 2008
Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333. Sage Publication diakses melalui http://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008
Gunarsa, S. D. (1989). PsikologiPperkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muss, R. E. , Olds, S. W. , & Fealdman (2001). Human Developmen. Boston: McGraw-Hill Companies.
Rey, J. (2002). More than Just The Blues: Understanding Serious Teenage Problems. Sydney: Simon & Schuster.
Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Tambunan, R. (2001). Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Mitos-mitos Seputar “Gak Bakal Hamil”. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Kebutuhan Psikologis Remaja. Diakses dari http://www.kompasiana.com pada tanggal 11 Juni 2016

Psikologi-Remaja-Karakteristik-Dan-Permasalahannya. Diakses dari http://netsains.net pada tanggal
11 Juni 2016

0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts